Selamat datang kembali dunia per-blog-an :D.
Setelah sedikit menguta-atik halaman blog,aku sudah siap untuk nge blog lagi..hehehe
Ya,sudahlah cukup segitu saja,enggak nyambung ya judul post sama isinya...hhahahha
Jumat, 18 Desember 2009
Kamis, 09 Juli 2009
memandang orang bekerja~hmmm.
udah dua hari ini aku berangkat ke kantor,bukan beneran kerja tapi kerja praktek yang benilai 2 sks (kalo di kampusku disebutnya geladi)
setiap pagi aku berangkat dari rumah (senangnya di rumah) ke kantor daerah telekomunikasi purwokerto.
Dan tebak aku ngapain di sini?cuma duduk doang,ngenet..ya disambi ngerjain proyek dikit-dikit sih..tapi beneran deh bosen banget.
Aku merhatiin orang-orang kerja di sini (khususnya di divisi yang aku tumpangin),wii kerjaannya terlihat nyantai banget,ya walopun pergi-pergi keluar kalo ada yang trouble.
Apalagi manajernya cuma duduk,main laptop ma mimpin meeting aja.
Kurang menantang juga ya kerja kayak gini..
Yang membuat aku jadi berpikir, aku biasa ngeliat tukang becak di pinggir jalan ato kuli-kuli panggul yang kerjaannya lumayan berat (kalo ada order), tapi imbalan yang didapet gak seberapa!
miris ya, di sini cuma duduk-duduk gajinya lumayan gede.
Dunia ini emang kerasa gak adil ya..cuma KERASA walopun sebenernya Tuhan udah kasih yang paling adil karena Dia Maha Adil.
Untuk perbandingan, gini yaaa..kalo tukang becak atau kuli panggul kemungkinan besar usaha sebelumnya nggak sekeras yang jadi manajer...misal sekolah tinggi,garap tugas,usaha cari kerja,dll
au ah elap..
setiap pagi aku berangkat dari rumah (senangnya di rumah) ke kantor daerah telekomunikasi purwokerto.
Dan tebak aku ngapain di sini?cuma duduk doang,ngenet..ya disambi ngerjain proyek dikit-dikit sih..tapi beneran deh bosen banget.
Aku merhatiin orang-orang kerja di sini (khususnya di divisi yang aku tumpangin),wii kerjaannya terlihat nyantai banget,ya walopun pergi-pergi keluar kalo ada yang trouble.
Apalagi manajernya cuma duduk,main laptop ma mimpin meeting aja.
Kurang menantang juga ya kerja kayak gini..
Yang membuat aku jadi berpikir, aku biasa ngeliat tukang becak di pinggir jalan ato kuli-kuli panggul yang kerjaannya lumayan berat (kalo ada order), tapi imbalan yang didapet gak seberapa!
miris ya, di sini cuma duduk-duduk gajinya lumayan gede.
Dunia ini emang kerasa gak adil ya..cuma KERASA walopun sebenernya Tuhan udah kasih yang paling adil karena Dia Maha Adil.
Untuk perbandingan, gini yaaa..kalo tukang becak atau kuli panggul kemungkinan besar usaha sebelumnya nggak sekeras yang jadi manajer...misal sekolah tinggi,garap tugas,usaha cari kerja,dll
au ah elap..
Kamis, 07 Mei 2009
bukan elegi
kepulan asam hitam mulai ramai di jalanan
hilir-mudik pengamen mengiringi laju lambat kendaraan
antrian padat menghiasi tiap sudut lalu lintas
tangan-tangan penuh belas kasihan menggelayuti kuda-kuda besi
koran-koran pagi hangat mulai beredar berharga tawar
tangan anak-anak
pengamen anak-anak
loper anak-anak
semua serba semakin banyak anak-anak
yang semestinya duduk manis di bangku kelas
menanti si pengantar ilmu
bukan duduk termangu di pinggir trotoar
menanti mata tiga lalu lintas memancarkan sinar merah
menanti nafkah yang telah hilang termakan kemiskinan
hilir-mudik pengamen mengiringi laju lambat kendaraan
antrian padat menghiasi tiap sudut lalu lintas
tangan-tangan penuh belas kasihan menggelayuti kuda-kuda besi
koran-koran pagi hangat mulai beredar berharga tawar
tangan anak-anak
pengamen anak-anak
loper anak-anak
semua serba semakin banyak anak-anak
yang semestinya duduk manis di bangku kelas
menanti si pengantar ilmu
bukan duduk termangu di pinggir trotoar
menanti mata tiga lalu lintas memancarkan sinar merah
menanti nafkah yang telah hilang termakan kemiskinan
Senin, 04 Mei 2009
kaki-kaki busuk
terlihat indah tanpa cela
berjalan dengan tegas dan pasti
terkesan bersih tanpa noda
berhias gelang emas gemerincing
indah dipandang,lembut disentuh
kasat mata di balik kulit ternyata
darah anyir dan busuk yang mengalir
penuh sampah,sumber kuman penyakit
representasi wakil rakyat masa kini
kaki-kaki busuk!
berjalan dengan tegas dan pasti
terkesan bersih tanpa noda
berhias gelang emas gemerincing
indah dipandang,lembut disentuh
kasat mata di balik kulit ternyata
darah anyir dan busuk yang mengalir
penuh sampah,sumber kuman penyakit
representasi wakil rakyat masa kini
kaki-kaki busuk!
libidonomics.
libidonomics.
Berasal dari kata libido dan nemeins.
Libido berarti hawa nafsu, sedangkan nemeins berarti mendistribusikan.Jadi, kalau dikaitkan dengan bentuk cinta, modelnya adalah cinta yang didasarkan hawa nafsu yang didasarkan atas hal-hal yang dapat mengarahkan bangkitnya hawa nafsu dan keserakahan.(Yasraf A. Piliang).
Contoh nyata, seseorang yang selalu ingin up date dan mengikuti iklan serta tren yang ada yang terkesan memaksakan diri. Seseorang yang tumbuh tidak be yourself.Orang akan lebih percaya diri dengan barang-barang yang bermerk mahal, terobsesi dengan iklan dan rela berdiam diri di depan cermin berjam-jam demi sebuah kecantikan.
Orang-orang seperti ini seolah dikendalikan oleh arus cinta libidonomics. Cinta terhadap diri sendiri dengan mengumbar hawa nafsu.
Kenapa aku tiba-tiba ingin nulis ini..?
Sebenernya terkadang aku sendiri juga merasakan adanya libidonomics dalam diriku sendiri.Atau mungkin hampir semua orang 'pernah' mengalami hal semacam ini?Mungkin juga setiap orang memiliki kadar masing-masing. Ah entahlah. .
Yang jelas, semakin terlihat kalau kehidupan jaman sekarang memang menuntut orang untuk memiliki libidonomics yang tinggi. Iya ngga sih?!
Terkadang aku sendiri tidak sepaham dengan adanya tuntutan itu. Tapi, namanya juga hukum rimba..kita pastilah mau tidak mau harus mengikuti aturan main di dalamnya. Kembali lagi ke diri kita masing-masing,mau seperti apakah kita. Jadi korban tren karena kadar libidonomics yang tinggi,atau jadi orang smart yang dapat mengendalikan libidonomics kita.
(*ngomong apa sih aku)
Tapi bener deh..coba liat di banyak tempat umum kita bakal nemuin banyak orang dengan tipe penampilan yang hampir SAMA. Semuanya seperti ada yang mengendalikan,huweh..betapa dahsyatnya tren yah!
Kalau si follower tren itu mampu dan tidak merasa terbebani dengan cara dia untuk mengikuti tren,it's fine!
Tapi, ngga sedikit juga orang yang memaksakan diri dan kemampuannya untuk mengikuti tren.Wah...wah...mengorbankan kebebasan jiwa hanya demi tren.
For me, all of these are okay!Selama masih dalam kemampuan kita. Aku sendiri bukan orang yang suka mengikuti tren (*bukan karena ngga suka,tapi ngga mampu) hehehe.
Selama ada hal baru atau tren yang sesuai dengan aku,bisa lah dijadiin acuan. Tapi,kalo ngga kita banget ngapain dipaksain demi keliatan up to date!
It's our choice :)
Berasal dari kata libido dan nemeins.
Libido berarti hawa nafsu, sedangkan nemeins berarti mendistribusikan.Jadi, kalau dikaitkan dengan bentuk cinta, modelnya adalah cinta yang didasarkan hawa nafsu yang didasarkan atas hal-hal yang dapat mengarahkan bangkitnya hawa nafsu dan keserakahan.(Yasraf A. Piliang).
Contoh nyata, seseorang yang selalu ingin up date dan mengikuti iklan serta tren yang ada yang terkesan memaksakan diri. Seseorang yang tumbuh tidak be yourself.Orang akan lebih percaya diri dengan barang-barang yang bermerk mahal, terobsesi dengan iklan dan rela berdiam diri di depan cermin berjam-jam demi sebuah kecantikan.
Orang-orang seperti ini seolah dikendalikan oleh arus cinta libidonomics. Cinta terhadap diri sendiri dengan mengumbar hawa nafsu.
Kenapa aku tiba-tiba ingin nulis ini..?
Sebenernya terkadang aku sendiri juga merasakan adanya libidonomics dalam diriku sendiri.Atau mungkin hampir semua orang 'pernah' mengalami hal semacam ini?Mungkin juga setiap orang memiliki kadar masing-masing. Ah entahlah. .
Yang jelas, semakin terlihat kalau kehidupan jaman sekarang memang menuntut orang untuk memiliki libidonomics yang tinggi. Iya ngga sih?!
Terkadang aku sendiri tidak sepaham dengan adanya tuntutan itu. Tapi, namanya juga hukum rimba..kita pastilah mau tidak mau harus mengikuti aturan main di dalamnya. Kembali lagi ke diri kita masing-masing,mau seperti apakah kita. Jadi korban tren karena kadar libidonomics yang tinggi,atau jadi orang smart yang dapat mengendalikan libidonomics kita.
(*ngomong apa sih aku)
Tapi bener deh..coba liat di banyak tempat umum kita bakal nemuin banyak orang dengan tipe penampilan yang hampir SAMA. Semuanya seperti ada yang mengendalikan,huweh..betapa dahsyatnya tren yah!
Kalau si follower tren itu mampu dan tidak merasa terbebani dengan cara dia untuk mengikuti tren,it's fine!
Tapi, ngga sedikit juga orang yang memaksakan diri dan kemampuannya untuk mengikuti tren.Wah...wah...mengorbankan kebebasan jiwa hanya demi tren.
For me, all of these are okay!Selama masih dalam kemampuan kita. Aku sendiri bukan orang yang suka mengikuti tren (*bukan karena ngga suka,tapi ngga mampu) hehehe.
Selama ada hal baru atau tren yang sesuai dengan aku,bisa lah dijadiin acuan. Tapi,kalo ngga kita banget ngapain dipaksain demi keliatan up to date!
It's our choice :)
Kamis, 02 April 2009
antiklimaks
======================================
hempasan angin ke kecil menyeka wajahku yang penuh debu.
sepoi-sepoi terasa menyentuh pori-pori kulitku.
aku jenuh
aku lelah
aku sakit
aku termangu di sudut keheningan siang yang berkulitkan mega kelabu.
pikiran kacauku makin menjalar,sedikit demi sedikit menghantui hari-hari manis ini.
dan aku masih saja termangu.
hempasan angin ke kecil menyeka wajahku yang penuh debu.
sepoi-sepoi terasa menyentuh pori-pori kulitku.
aku jenuh
aku lelah
aku sakit
aku termangu di sudut keheningan siang yang berkulitkan mega kelabu.
pikiran kacauku makin menjalar,sedikit demi sedikit menghantui hari-hari manis ini.
dan aku masih saja termangu.
Rabu, 01 April 2009
~realita klasik.
Sekitar beberapa jam yang lalu (sekitar setengah sepuluh pagi), aku bersama ketiga temanku (~tyas,liska,nita) berusaha keluar dari lingkup kampus yang semakin penat di tengah-tengah kekosongan kuliah(sebenernya sih nemenin nita buat melakukan sesuatu*). Perjalanan di ruas jalan terusan buah batu sangat padat. Membuat semakin penat saja! Oh,iya tidak tau harus aku ceritakan atau tidak sebelum masuk mobil,aku sempat makan bubur ayam di depan kampus dan yang aku rasakan setelah masuk mobil adalah = mual.
Ada yang salah denganku atau dengan buburnya?!
*yaa,..nggak terlalu penting
Dalam perjalanan ada sebuah pemandangan yang membuatku sedikit tersentil (*alias tertampar). Ketika mobil berhenti di traffic light jalan soekarno-hatta, samar-samar aku melihat dari balik jendela mobil yang sedikit kehitaman, beberapa orang sedang duduk dikelilingi beberapa alat musik masjid yang terbuat dari kulit binatang (aku biasa menyebutnya genjringan) sembari menikmati makanan (sepertinya nasi bungkus,soalnya ada bungkus kertas warna coklatnya). Ada seorang pria setengah baya dengan cukuran rambut gondrong pakai peci, tiga orang wanita (kurang lebih) dua diantaranya setaraf ibu-ibu satunya lagi terlihat masih sedikit lebih muda, lalu satu anak balita bergender perempuan yang sedang disupain sama wanita muda tadi, trus dua orang anak laki-laki (umur anak sekolah dasar sepertinya) yang tidak makan (sudah selesai mungkin). Aku heran, jam segitu kok anak-anak tidak bersekolah. Aku berpikir positif aja, pasti sudah pulang sekolah. Melihat mereka makan nikmat, jadi merasa lapar lagi. Tetapi,kuperhatikan lebih jauh mereka hanya makan NASI SAJA. Pria yang setengah baya tadi (aku anggap dia kepala rumah tangga alias bapaknya) makan pakai lauk, tetapi hanya kerupuk putih yang setahuku harganya lima ratus rupiah.! Jadi tambah mual (nafsu makan turun drastis). Oh,my Godness...ya Allah....Alhamdulillah aku masih bisa makan sama bubur ayam dengan harga delapan ribu (walaupun ngutang). Aku perhatikan lagi dalam-dalam, memang kalau aku nilai penampilan mereka bisa dibilang (sedikit) kumuh. Kulit mereka terlihat legam terbakar matahari, wajah mereka kusam bekas asap-asap kendaraan. Mata mereka sayu...terlihat lelah, tetapi tetap menikmati makanan. Aku sempat melihat kertas bungkusan nasi yang dimakan si bapak bersih tak bersisa satu butir nasi pun.
Satu kejadian yang membuatku semakin takjub, sungguh takjub dan baru kali ini aku menyaksikan secara langsung. Terlihat, si bapak berdialog dengan kedua anak laki-laki yang menurutku seharusnya berada di ruang kelas sekolah tadi. Kedua anak laki-laki itu nampak tidak antusias dengan dialog itu. Bahkan wajah mereka mengiaskan suatu keengganan,kesedihan juga ketakutan. Si bapak terus mengajak mereka berdialog walaupun kedua anak tadi benar-benar enggan, bahkan terlihat memaksa sambil mendorong anak-anak itu untuk berdiri turun ke jalan. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetap yang ada dalam pikiranku si bapak itu memaksa kedua anaknya untuk mengamen. Sekali lagi MEMAKSA! Pikiranku kacau, perasaanku berkecamuk. Sakit melihatnya! Anak-anak seumuran sekolah dasar dipaksa mengamen!
Padahal anak-anak tadi menolak dengan wajah yang mengiba. Jahat banget sih bapak itu. JAHAT!
Aku bener-bener tidak tega menyaksikannya. Keadaan di mobil ribut seketika, teman-temanku juga tidak rela dengan kejadian itu. Aku langsung teringat bapak di rumah. Sesusah apapun kehidupan dan perekonomiannya, TIDAK PERNAH sekalipun dia memaksa aku untuk membantunya. Bahkan, aku mau bekerja part-time saja sampai saat ini masih tidak diperbolehkan.
Buat si bapak gondrong brengsek tadi : " Aku tau, hidup itu susah. Hidup itu keras. Aku tau hidupmu susah Pak. Aku tau sampai sekarang aku nggak pernah merasakan hidup sekejam itu dan mungkin aku tidak berhak berbicara seperti ini karena aku nggak ngerasain sendiri. Tapi Pak, apakah pantas Bapak memperlakukan anak-anak itu seperti tadi. Udah nggak ada cara lain lagi buat nyari uang sampai tega memaksa anak-anak itu!Jahat!"
Aku tidak menyalahkan pihak mana pun. Aku tahu pemerintah juga sudah berusaha dan berpusing ria memikirkan keadaan seperti ini. Dan aku tahu aku tidak pantas membicarakan hal ini, karena aku sadar aku manusia yang selama ini acuh dengan keadaan sekitarku. Memikirkan diri sendiri, tidak bersyukur..
Mungkin ini cermin buat kita semua. Inilah realita yang ada. Realita klasik yang dari dulu tidak pernah berakhir. Ya, Allah berilah mereka sedikit kenikmatan...
Aku jadi berpikir, orang-orang kaya di alam mereka apakah pernah memikirkan hal ini?orang-orang yang tidak pernah merasa puas (*aduh aku tersinggung) dengan hidup mereka yang sudah lebih dari kekurangan?orang-orang yang selalu ingin terlihat 'wah' padahal dunia sekitar memanggilnya untuk meminta pertolongan?!
APATIS!!!!!
Ada yang salah denganku atau dengan buburnya?!
*yaa,..nggak terlalu penting
Dalam perjalanan ada sebuah pemandangan yang membuatku sedikit tersentil (*alias tertampar). Ketika mobil berhenti di traffic light jalan soekarno-hatta, samar-samar aku melihat dari balik jendela mobil yang sedikit kehitaman, beberapa orang sedang duduk dikelilingi beberapa alat musik masjid yang terbuat dari kulit binatang (aku biasa menyebutnya genjringan) sembari menikmati makanan (sepertinya nasi bungkus,soalnya ada bungkus kertas warna coklatnya). Ada seorang pria setengah baya dengan cukuran rambut gondrong pakai peci, tiga orang wanita (kurang lebih) dua diantaranya setaraf ibu-ibu satunya lagi terlihat masih sedikit lebih muda, lalu satu anak balita bergender perempuan yang sedang disupain sama wanita muda tadi, trus dua orang anak laki-laki (umur anak sekolah dasar sepertinya) yang tidak makan (sudah selesai mungkin). Aku heran, jam segitu kok anak-anak tidak bersekolah. Aku berpikir positif aja, pasti sudah pulang sekolah. Melihat mereka makan nikmat, jadi merasa lapar lagi. Tetapi,kuperhatikan lebih jauh mereka hanya makan NASI SAJA. Pria yang setengah baya tadi (aku anggap dia kepala rumah tangga alias bapaknya) makan pakai lauk, tetapi hanya kerupuk putih yang setahuku harganya lima ratus rupiah.! Jadi tambah mual (nafsu makan turun drastis). Oh,my Godness...ya Allah....Alhamdulillah aku masih bisa makan sama bubur ayam dengan harga delapan ribu (walaupun ngutang). Aku perhatikan lagi dalam-dalam, memang kalau aku nilai penampilan mereka bisa dibilang (sedikit) kumuh. Kulit mereka terlihat legam terbakar matahari, wajah mereka kusam bekas asap-asap kendaraan. Mata mereka sayu...terlihat lelah, tetapi tetap menikmati makanan. Aku sempat melihat kertas bungkusan nasi yang dimakan si bapak bersih tak bersisa satu butir nasi pun.
Satu kejadian yang membuatku semakin takjub, sungguh takjub dan baru kali ini aku menyaksikan secara langsung. Terlihat, si bapak berdialog dengan kedua anak laki-laki yang menurutku seharusnya berada di ruang kelas sekolah tadi. Kedua anak laki-laki itu nampak tidak antusias dengan dialog itu. Bahkan wajah mereka mengiaskan suatu keengganan,kesedihan juga ketakutan. Si bapak terus mengajak mereka berdialog walaupun kedua anak tadi benar-benar enggan, bahkan terlihat memaksa sambil mendorong anak-anak itu untuk berdiri turun ke jalan. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetap yang ada dalam pikiranku si bapak itu memaksa kedua anaknya untuk mengamen. Sekali lagi MEMAKSA! Pikiranku kacau, perasaanku berkecamuk. Sakit melihatnya! Anak-anak seumuran sekolah dasar dipaksa mengamen!
Padahal anak-anak tadi menolak dengan wajah yang mengiba. Jahat banget sih bapak itu. JAHAT!
Aku bener-bener tidak tega menyaksikannya. Keadaan di mobil ribut seketika, teman-temanku juga tidak rela dengan kejadian itu. Aku langsung teringat bapak di rumah. Sesusah apapun kehidupan dan perekonomiannya, TIDAK PERNAH sekalipun dia memaksa aku untuk membantunya. Bahkan, aku mau bekerja part-time saja sampai saat ini masih tidak diperbolehkan.
Buat si bapak gondrong brengsek tadi : " Aku tau, hidup itu susah. Hidup itu keras. Aku tau hidupmu susah Pak. Aku tau sampai sekarang aku nggak pernah merasakan hidup sekejam itu dan mungkin aku tidak berhak berbicara seperti ini karena aku nggak ngerasain sendiri. Tapi Pak, apakah pantas Bapak memperlakukan anak-anak itu seperti tadi. Udah nggak ada cara lain lagi buat nyari uang sampai tega memaksa anak-anak itu!Jahat!"
Aku tidak menyalahkan pihak mana pun. Aku tahu pemerintah juga sudah berusaha dan berpusing ria memikirkan keadaan seperti ini. Dan aku tahu aku tidak pantas membicarakan hal ini, karena aku sadar aku manusia yang selama ini acuh dengan keadaan sekitarku. Memikirkan diri sendiri, tidak bersyukur..
Mungkin ini cermin buat kita semua. Inilah realita yang ada. Realita klasik yang dari dulu tidak pernah berakhir. Ya, Allah berilah mereka sedikit kenikmatan...
Aku jadi berpikir, orang-orang kaya di alam mereka apakah pernah memikirkan hal ini?orang-orang yang tidak pernah merasa puas (*aduh aku tersinggung) dengan hidup mereka yang sudah lebih dari kekurangan?orang-orang yang selalu ingin terlihat 'wah' padahal dunia sekitar memanggilnya untuk meminta pertolongan?!
APATIS!!!!!

